III.
PROSEDUR
A. Pembuatan
Larutan Standar Fe-Salisilat dan Kurva Kalibrasi
LARUTAN STANDAR
Ditimbang dengan seksama
160 mg baku pembanding asam salisilat kedalam labu Erlenmeyer 50 ml. Dicatat jumlah
asam salisilat yang ditimbang. Ditambahkan 5 ml NaOH 1,0 N dengan menggunakan
pipet seukuran. Larutan yang diperoleh dipindahkan kedalam labu takar 100 ml.
Diencerkan dengan air destilasi hingga tanda batas. Diperoleh larutan stok baku
pembanding. ( Ditandai labutakar dengan kode “SA” ). Dipipet masing-masing
0,5;0,4;0,3;0,2;0,1 ml larutan stok baku pembanding kedalam labutakar 10 ml.
Diencerkan dengan larutan FeCl3 0,02 M. Masing-masing larutan standar
diukur absorbansinya pada panjang gelombang 530 nm. Pengukuran dilakukan mulai dari
larutan yang paling encer. Kuvet dibilas sebelum diisi dengan larutan standar
yang selanjutnya. Digunakan larutan FeCl3 sebagai larutan blanko.
LARUTAN UJI
Diserbukkan lima tablet
aspirin. Ditimbang serbuk tablet aspirin setara dengan 160 mg aspirin.
Dipersiapkan larutan stok aspirin “ASA” asam salisilat diganti dengan aspirin. Dibuat
pengenceran larutan stok standar ASA dengan cara dipipet 0,3 ml larutan stok
ASA kedalam labutakar 10 ml. Diencerkan dengan larutan FeCl3 0,02 M
hingga tanda batas. Diukur dan dicatat absorbansi dari larutan dengan panjang gelombang
530 nm. Ditentukan kadar aspirin dalam tablet aspirin dengan digunakannya persamaan
regresi linear yang didapat dari kurva kalibrasi.
VI. PEMBAHASAN
Spektrofotometri
merupakan suatu metoda analisis yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar
monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik
dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi di fraksi dengan detektor
fototube. Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban
suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Spektrofotometri terdiri dari
beberapa jenis berdasarkan sumber cahaya yang digunakan, yaitu Spektofotometri
UV (Ultra Violet), spektrofotometri visible ( Sinar Tampak ), spektrofotometer
UV-Vis, dan Spektrofotometri IR (Inframerah), memiliki prinsip kerja yang sama
yaitu “adanya interaksi antara materi materi dengan cahaya yang memiliki
panjang gelombang tertentu”. Perbedaannya terletak pada panjang gelombang yang
digunakan.
Spektrofotometri UV-Vis dapat digunakan baik untuk sampel
yang berwarna maupun tidak berwarna. Metode spektrofotometer UV-Vis lebih banyak dipakai untuk
analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif. Konsentrasi dari analit di dalam
larutan bisa ditentukan dengan mengukur absorban pada panjang gelombang
tertentu dengan menggunakan hukum Lambert-Beer (Rohman, 2007).
Prinsip kerja spektrofotometri UV-Vis yaitu suatu molekul yang dikenai sinar
dari sumber radiasi akan diteruskan menuju monokromator. Cahaya dari
monokromator di arahkan terpisah melalui sampel dengan sebuah cermin berotasi.
Detektor menerima cahaya dari sampel secara bergantian dan berulang, sinyal
listrik dari detektor diproses sehingga di dapatkan nilai absorbansi.
Pada percobaan kali ini dilakukan
penentuaan kadar aspirin (asam asetil salisilat) di dalam suatu sediaan farmasi
dengan cara analisis kuantitatif. Aspirin merupakan asam organik yang lemah,
mengandung gugus kromofor yaitu karboksil (asam karboksilat) dan benzene. Gugus
kromofor pada aspirin merupakan gugus yang dapat menghasilkan warna.
Sesuai
dengan literatur penentuan kadar aspirin dilakukan pada panjang gelombang 530
nm. Akan tetapi dilakukan pemastian kembali untuk penentuan panjang gelombang
yang digunakan pada aspirin. Setelah didapatkan panjang gelombang yang pasti,
barulah dapat dilakukan pemilihan metode yang akan digunakan. Pemilihan metode
ini didasarkan pada karakteristik dari aspirin. Karena aspirin memiliki gugus
kromofor dan panjang gelombang penyerapan cahayanya berada pada daerah visible
yaitu 350 – 800 nm, maka dipilihlah metode spektrofotometri visible atau
spektrofotometer berkas tunggal dimana blanko dimasukkan atau disinari secara
terpisah. Keuntungan alat ini yaitu
mempunyai sensitivitas yang relatif tinggi, pengerjaanya mudah sehingga
pengukuran yang dilakukan cepat, dan mempunyai spesifisitas yang baik.
Pada penetapan kadar aspirin
dilakukan dengan pembuatan larutan standar Fe salisilat dan kurva kalibrasi.
Pada pembuatan larutan standar baku pembanding yang digunakan yaitu asam
salisilat, sedangkan pada larutan uji digunakan aspirin dan dilakukan secara
duplo, pengerjaan duplo bertujuan untuk
menambah keakuratan hasil pengukuran, dengan membandingkan kadar yang diperoleh
keduanya sama atau tidak.
Kedua larutan tersebut diencerkan
menggunakan aquadest dan FeCl3. Penambahan aquadest bertujuan untuk
melarutkan sampel, akan tetapi karena kedua jenis sampel yang digunakan kurang
larut dalam volume air yang kecil sehingga kelarutannya kurang sempurna.
Sedangkan FeCl3 berfungsi sebagai blanko dan kromotag (menghasilkan
warna). FeCl3 akan membentuk kompleks ungu dengan asam salisilat
karena dalam gugus asam salisilat terdapat atom O (nukleofil) dalam gugus OH
akan menyerang atom Fe dengan melepaskan
atom H nya untuk membentuk ikatan O-FeCl2. Aspirin tidak membentuk kompleks
berwarna ungu karena tidak memiliki gugus OH. Sedangkan, FeCl3 digunakan
sebagai blanko supaya alat
spektrofotometer UV/Vis mengenal matriks selain sampel sebagai pengotor.
Kemudian setting blank sehingga ketika pengukuran hanya sampel yang diukur
absorbansinya. Sebelum pengukuran absorbansi sampel/standar, harus dilakukan
blanko terlebih dahulu.
Selama proses pemeriksaan ini, bagian bening
kuvet tidak boleh disentuh oleh tangan karena sumber sinar akan
diteruskan melalui bagian bening kuvet. Jika bagian bening kuvet terkontaminasi
oleh tangan, maka akan mempengaruhi nilai absorbansi. Hal ini akan memungkinkan
kesalahan dalam menginterpretasikan data yang diperoleh.
Prinsip penetapan kadar aspirin,
dimana terjadi reaksi pembentukan kompleks aspirin yang diencerkan dengan
penambahan basa kemudian terjadi reaksi hidrolisis yang cepat atau lambat
menjadi salisilat dan asetat tanpa tergantung pada konsentrasi ion OH. aspirin
yang terhidrolisis dengan katalis NaOH terurai menjadi salisilat dianion dan asetat anion. Selanjutnya, senyawa asam
salisilat bereaksi dengan larutan FeCl3 sehingga atom -H terlepas menjadikan asam salisilat mengandung Fenol. maka
reaksi FeCl3 dengan asam salisilat akan membentuk kompleks ungu. Hal
ini menunjukkan bahwa telah terbentuk senyawa kompleks dari Fe3+ dengan fenol.
Fenol merupakan senyawa yang mengandung gugus hidroksil yang terikat pada
karbon tak jenuh, sehingga dapat bereaksi dengan besi (III) klorida
menghasilkan larutan berwarna.
Reaksi kimia yang terjadi :

Acetil salicylic acid Salycilate dianion acetate
anion

Salicylate
dianion + Iron (III)
Tetraaquosalicylatroiron
(III) complex.
Kemudian,
penentuan kadar aspirin dapat
dilihat dari nilai absorbansi setiap larutan dengan membuat sederet larutan
standar dengan konsentrasi yang telah diketahui secara pasti. Selanjutnya
diukur absorbansinya dan dibuat kurva antara absorbansi dengan konsentrasi
sehingga diperoleh garis linear. Menurut hukum lambert beer absorbansi
berbanding lurus dengan konsentrasi. Namun demikian pada kenyataannya
penyimpangan sering terjadi.
Hasil Penetapan Kadar dan Kurva
Kalibrasi :
|
KONSENTRASI
|
ABSORBANSI
|
|
0.000579
|
0.865
|
|
0.000463
|
0.698
|
|
0.000347
|
0.526
|
|
0.000231
|
0.34
|
|
0.000116
|
0.167
|

Kurva
standar menunjukkan hubungan antara konsentrasi larutan ( sumbu-x ) dengan
absorbansi larutan ( sumbu-y ) dari kurva standar dihasilkan suatu persamaan
yang di regresilinierkan, didapat persamaan y =1514.x – 0,006. Dengan regresi yang dihasilkan sebesar 0,999. Nilai
ini menunjukkan koefisien korelasi antara absorbansi dengan konsentrasi besar
sehingga linearitas dari kurva adalah baik. Dimana semakin tinggi konsentrasi
maka semakin besar pula nilai absorbansinya.
Setelah
dilakukan pembuatan kurva kalibrasi dan dilakukan perhitungan kadar. Hasil
kadar aspirin secara duplo yaitu 32.89%
dan 30.44%. Hal ini dapat dinyatakan kadar aspirin yang terkandung di dalam
sediaan farmasi yang diuji memiliki kadar yang relatif kecil. Menurut Farmakope
Indonesia edisi IV persyaratan kadar untuk tablet yang mengandung aspirin
adalah mengandung tidak kurang dari 90,0 % dan tidak lebih dari 110,0 %. Untuk
itu dapat disimpulkan bahwa tablet yang mengandung aspirin tersebut tidak
memenuhi persyaratan kadar yang ditetapkan oleh Farmakope Indonesia IV.
Hal
tersebut dapat dikarenakan kesalahan atau ketidak telitian alat sangat
berpengaruh besar, ketika aspirin dilarutkan belum terlarut secara sempurna
atau masih terdapat bongkahan kecil, kurang telitinya dalam
penimbangan bahan, pengambilan pelarut, maupun ketidak homogenan dalam
pengocokan, akibat kurangnya
ketelitian praktikan dapat memungkinkan perbedaan panjang gelombang yang diperoleh. Diketahui dari kelarutannya aspirin
mudah larut dalam air mendidih seharusnya pelarutannya memerlukan volume air
yang banyak dan memerlukan suhu yang tinggi sehingga dapat melarut
sempurna. Masih adanya zat pengotor dari larutan tersebut, pengotor seperti
pencucian alat yang tidak bersih dimungkinkan membawa dampak terhadap hasil
yang diperoleh dari percobaan ini. Atau juga karena ketersediaan alat yang minim
sebab alat yang digunakan pada saat praktikum bukan spektrofotometer Visible,
melainkan spektrofotometer UV.
VIII. DAFTAR PUSTAKA
( akses : 18/4/2014
pukul : 09.00 wib. )
( akses : 18/4/2014
pukul : 11.00 wib. )
( akses
: 16/4/2014 pukul 19.00wib )
5) Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. JAKARTA :
DIRJEN POM
6) Raymond C Rowe, Paul J sheskey,
Marian E Quinn. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipient 6th Edition.
London: The Pharmaceutical Press.
7) Furniss, Brian S., et al., Vogel’s Textbook of Practical
Organic Chemistry 5th Edition-Revised. 1989. Longman Scientific &
Technical, Essex, England. (page 135 -151, 236-240).
8) Day and Underwood. 1999. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga
9) Khopkar, S.M. 2002. Konsep Dasar Kimia Analitik.
Jakarta: UI-Press
10) Rohman, Abdul, Ibnu Gandjar. 2007. Kimia Farmasi
Analisis. Yogyakarta: Pustaka
Belajar